Ada ketidakbahagian dibalik kebahagian kita menikmati listrik di rumah. Ketidakbahagian yang berakhir maut bagi Novi yang berbulan-bulan menderita kanker akibat terpapar polutan batubara dari PLTU Panau di Palu. Satu dari sekian potret rakyat yang terdampak atas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbahan baku batubara
Ketidakbahagian yang sama dirasakan petani di sekitar pembangunan mega proyek PLTU Batang, Jawa Tengah. Begitupun para nelayan yang mencari ikan di sekitar perairan Karimun Jawa dan juga Bali.
Hal ini digambarkan dengan gambar dan plot yang menyentuh dari film dokumenter produksi Watchdoc Documentary karya Danny Laksono berjudul Sexy Killers.
Saya diundang menjadi pemantik untuk diskusi dan nonton bareng film ini oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar di sekertariatnya, malam 10 April 2019 lalu.
Film ini hendak menginterupsi kebahagian kita dalam menikmati kehidupan nan fana ini dalam gemerlap cahaya dari tonggak penemuan masyarakat modern bernama listrik. Tingkat kebutuhan pada energi yang memberikan tenaga listrik ini semakin melonjak saja. Dari sekedar menjaga handphone kita tetap standby agar tak dituding sedang melakukan apa-apa oleh pasangan karena hp yang sedang off, hingga mengatasi kejengkelan kita menyaksikan klub kebanggan kita bermain di lapangan sepakbola yang memerlukan ratusan watt untuk menerangi pertandingan yang dilakukan di malam hari.
Walaupun fana, hidup yang menyenangkan dengan sungguh-sungguh kita nikmati, kita usahakan dengan sebaik-baiknya dengan setekun-tekunnya. Anehnya kita tak cukup puas. Kita meminta peradaban membangunkan segala macam produk kebudayaan untuk memberikan fasilitas pada kesenangan dan kebahagian. Tetapi peradaban tak menyenangkan bagi semua orang. Harus ada yang ditumbalkan untuk itu.
Demi menjaga listrik tetap menyala dan menghindari makian warga atas matinya sejam saja listrik, pemerintah mengupayakan listrik. Pembangunan pembangkit listrik itu pun tentu harus menguntungkan bagi investornya. Karena hukum bisnisnya begitu. Maka dicarilah yang paling murah dan ekonomis sebagai bahan bakunya. Barubara menjadi konsumsi terbanyak dari PLTU itu. Dan pulau Kalimantan yang terbesar menyumbang batubaranya untuk dipakai.
Karena menguntungkan, sekelompok orang ingin menguasai ini. Baik dari hulu hingga hilir. Kalau perlu terkoneksi dari tambang batubara hingga PLTU. Ditambah lagi yang menentukan kebijakannya baik legislatif, eksekutif hingga yudikatifnya dalam satu lingkaran. Jadilah oligarki politik. Yang dasyat bila semua yang berlaga yang tampil seolah-olah bersaing beradu dalam konstetasi politik rupanya adalah satu kelompok yang sama. Kita hanya melihat pelaksanaan demokrasi yang seolah-olah demokrasi. Kita hanya melihat sandiwara Pemilu, Pilpres ataupun Pilkada.
Suara-suara minor, yang berjarak selemparan batu anak kecil dari belakang rumahnya, bahkan hanya berjarak lima centimeter dari hidungnya itulah yang diredam dan tak terekspose dari keriuhan politik di media-media -oh iya media media besar ini pun dimiliki oleh para oligarki tersebut- karena itupula publik mesti berterima kasih kepada orang-orang seperti mas Dandhy yang rela merogoh kocek tabungannya untuk dihabiskan berkeliling Indonesia. Bukan untuk merekam panorama keindahan negeri kaya hayati dan laut ini. Tetapi untuk merekam suara-suara minor. Dan juga ironi-ironi yang terus berulang dari pemilu ke pemilu. Dari rezim ke rezim lainnya. Dari Leisure dan traveling-traveling.
Peradaban yang menyerahkan sepenuhnya kepada nafsu manusia hanya akan melahirkan manusia-manusia serakah. Peradaban yang mendekatkan dan memasrahkan diri pada mekanisme alam akan mencoba untuk mengerti dan berjalan beriring-iringan. Kita tak bisa berdiam sembari mengutuki gelap karena pemadaman listrik. Kita masih berharap pada listrik yang dihasilkan dari tenaga angin atau matahari.
Kita tak harus berburu dengan waktu dan melahirkan teknologi yang instan tapi merusak ekosistem. Kita tak perlu berkecil hati untuk akhrinya pesimis bahwa kita hanya sendiri atau segelintir untuk bisa melawan raksasa bernama oligarki itu. Kita bisa bergerak bersama dalam barisan civil society yang beradab dan kuat.(*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar