tempat segala macam tulisan dari saya. sebuah jejak di dunia maya atas teks-teks yang keluar dari apa yang saya amati, saya rasakan dan saya pikirkan
Rabu, 15 Mei 2019
Memisahkan Pisang Ijo dari Sirup DHT, Itu Jahat!
Bulan ramadan yang akan membuat orang-orang Bugis Makassar di perantauan termehek-mehek pasti salah satunya adalah pisang ijo. Penganan takjil yang bentuk dan kuah santannya dirindukan.
Sayangnya usaha untuk mendupilkasi ataupun memodifikasi penganan ini selalu tidak bisa utuh memberikan seluruh kenangan dan kelezatan kuliner tradisional di kota Makassar ini.
Betapa tidak, di tanah-tanah rantau nun jauh dari angin mamiri pantai Losari itu, pisang ijo yang dianggap bisa mengobati rindu bulan ramadan di kampung itu tak memakai pasangan sejati pisang ijo, yup itu adalah sirop DHT.
Perlu diingat, komposisi penganan ini terdiri dari tiga bagian utama. Pertama; dadar pisang, dadar hijau pandan (bukan bolu pandan bosque) menjadi kulit yang membungkus pisang kepo atau pisang raja. Lalu kuah santan yang gurih dari santan dan tepung, lalu unsur ketiga adalah sirup pemanisnya mesti sirup DHT bukan yang lain apalagi mencoba-coba 'selingkuh' dengan sirup lain hanya karena lebih mahal semacam marjan itu. Itu sesungguhnya jahat!
Karena itulah, pisang ijo di perantauan tak pernah benar-benar sama dengan yang di kampung. Kenapa? ya karena mereka mengira sirup apa saja akan sama. Padahal tahukah kalian, pisang ijo dan sirup DHT adalah sepasang yang tak boleh dipisahkan. unsur batu es dan susu kental manis hanya komodifikasi saja. Percayalah!
Sirup DHT itu sendiri hanya diproduksi di Makassar, saat ini lokasi pabriknya berada di daerah Macanda, Tamarunang, Sungguminasa, Kabuapten Gowa, tak jauh dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, kota Makassar.
Uniknya, sirop DHT tak punya cabang, yang ada lokasinya yang berpindah, nyaris keselurahan dari apa yang berhubungan dengan DHT ini masih terjebak dengan masa lalunya, lalu membuat DHT menjadi sebuah legend kini malah mirip sebuah mitos itu sendiri, yang membawa kutukan kepada beberapa penganan yang tak utuh rasanya bila tak memakai sirup DHT.
Beberapa yang tak berubah dari masa lalu sirup ini seperti, tak punya cabang atau memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta sejak puluhan tahun ini (saat ini perusahaan pembuata sirup ini sudah dipegang oleh generasi ketiga). Juga sirupnya masih tetap sama dari sebuah botol kaca, hanya yang dijual grosiranlah yang kadang memakai jerigen plastik 2 liter atau 5 liter. Botol kaca itu berguna untuk mempertahankan aroma khas dan rasa sirup ini. Padahal, unsur yang terkandung biasa saja, sebanyak 65 persen adalah gula (makanya petunjuk pemakaiannya jangan terlalu banyak, secukupnya) anehnya, tersiar kabar dari dulu bila sirup ini bisa jadi obat diabates loh. Sayangnya itu tidak pernah tercantum dalam labelnya, itu hanya diakbarkan dari mulut ke mulut yang sudah membuat sirup DHT menjadi mitos.
Yang tak berubah adalah label kemasannya, gambar pisang ambon yang dan nama merek dagang sirup DHT Pisang Ambon karena ekstrak perasa aromanya memang berasa pisang ambon. Lalu ditambahi dengan gambar buah-buah lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan bahan baku sirup yang sudah dijual Rp30 ribu per botolnya. Bisa didapatkan lebih rumah bila anda mau jalan-jalan di sepanjang jalan Syek Yusuf, Katangka, Gowa yang menjadi jalan pembatas kabupaten Gowa dan kota Makassar. Di sana anda akan melihat jejeran penjual sirup DHT dalam jerigen-jerigen plastik putih saat bulan ramadan seperti sekarang.
Nah yang juga -mestinya- tak berubah adalah sirup DHT adalah pasangan sejati pisang ijo, tak tergantikan, always forever!
Mukjizat Doa
Apa yang masih tersisa dari kepercayaan saya? Jawabnya mungkin sisa doa. Dahulu saya pernah membaca tulisan dari Jalaluddin Rachmat. Tentang kekuatan doa.
Kang Jalal, panggilan akrab kang Jalal itu bercerita tentang sebuah penilitian botani. Dua buah pot tanaman mendapatkan perlakuan yang sama, diberi pupuk dan jenis tanah serta bibit yang sama. Disiram serta dirawat sama. Yang membedakan hanya satu pot tanaman didoakan satu pot lainnya tidak.
Hasilnya setelah berbulan bulan kemudian, ditemukan hasilnya. Pot tanaman yang didoakan tersebut lebih subur dan tumbuh lebih baik ketimbang pot tanaman yang tidak di doakan.
Saya percaya bahkan doa adalah semacam tombol panik yang selalu siap siaga bagi saya dalam kondisi genting. Beberapa kali itu terjadi. Menjadi semacam mukjizat.
Misalnya, saat saya panik dan nyaris putus asa saat mencukupkan uang untuk pernikahan. Ketila itu saya sudah kehabisan akal. Waktu yang kian mepet dan sepertinya seluruh saluran yang bisa menghasilkan uang sudah saya coba. Hasilnya tak bisa mencukupkan lebih dari setengah uang yang mesti saya kumpulkan.
Lalu saya pasrah. Berdoa dan bertaubat. Ini nasihat beberapa orang sebenarnya. Saya yang biasanya keras kepala atas nasihat tidak punya opsi lain. Saya menyerah, dan mulai pasrah dengan berdoa. Saya menyerahkan seluruh ikhtiar kepada Tuhan yang mengatur jodoh, rezeki dan ajal itu.
Tak memerlukan sampai esok hari. Tangan Tuhan mulai bekerja, satu per satu pintu pertolongan seolah terbuka. Sampai kemudian saya sendiri bingub dan selalu berkata dalam diri sendiri. Kok bisa ya?
Atau kala saya masih hidup berpetualang. Saya suka berada dalam kondiai kepepet atau kesusahan. Yang paling sering adalah tidak pinya duit. Saya pernah tiga hari berturut turut hanya makan sebatang coklat silverquen yang saya makan atau saya jadikan susu coklat. Untung coklat tersebut berukuran besar. Dengan perut lapar saya tiba-tiba berdoa mengadu hingga menetes air mata. Saya keluar rumah. Saya menjual beberapa buku lalu tanpa diduga bertemu seorang teman lama mengajak nongkrong dan membawa ke seorang salah satu tokoh pemuda yang cukup sukseks di kota itu dan saya pun diajak ke tempatnya. Di sana ia punya banyak persedian makanan, kopi, gula teh dan Lain-lain. Bahkan memberi ongkos transportasi waktu itu.
Saya juga pernah sudah sangat rindu pada rumah dan ibu saya. Padahal saat itu jangankan tiket pulang buat makan pun susah. Setelah menyempatkan singgah di mushollah saya pun keluar berjalan tanpa arah hingga menemukan uang seratusan ribu rupiah. Kala itu 100 ribu bisa dipakai untuk beli tiket kapal. Apalagi hanya bermodal betul betul hanya 100 ribu. Lalu saya berdoa dan memantapkan hati ke pelabuhan. Setelah mengisi perut ala kadarnya saya pun berangkat. Singkat cerita setelah melalui beberapa hal dan drama perjalanan. Saya ingat saya tiba di pelabuhan Makassar dengan sisa uang 10 ribu. Cukuplah untuk membeli semangkok coto dan ongkos pete - pete.
Kepercayaan saya pada doa dibarengin beberapa kesimpulan. Hasil dari doa nyata dan sesuai yang dibutuhkan. Saya selalu mendapatkan apa yang saya butuhkan dalam keadaan mendesak tersebut. Hal sesuai kebutuhan itu juga berfampak sangat luar biasa. Seperti saat butuh makan, sebatang coklat pun sudah sangat cukup. Sebab apa gunanya banyak duit misalnya tapi kita cuma bisa - atas permintaan dokter - makan sayur itupun tanpa garam dan bumbu apapun.
Kedua saya meyakini doa dan apa yang saya minta. Selain karena dalam berdoa saya betul betul memohon petolongan. (#)
Selasa, 14 Mei 2019
Dilema Anak Muda Makassar Bila Ibukota Pindah dari Jakarta.
Tiba - tiba kabinet Jokowi Jusuf Kalla bersidang akhir bulan kemarin ketika kabar meninggalnya petugas KPPS semakin banyak. Sidang yang tidak biasanya itu menghasilkan keputusan yang cukup penting dan mengagetkan. Bukan karena hasil keputusannya yang memang dari dulu selalu jadi wacana. Tapi terasa tiba-tibanya itu. Ibukota negara disepakati akan dipindahkan ke luar dari Pulau Jawa. Dua opsinya, kalau dak pulau Kalimantan dengan Palangkaraya calon terkuat juga pulau Sulawesi dengan kota Makassar sebagai calon terkuatnya.
Apakah begini caranya Jokowi 'membalas' kekalahan suaranya di luar pulau Jawa? Dengan memindahkan Ibukota? Tapi giliran yang di Makassar yang menganggapnya sebagai lelucon. Lihat saja meme seperti proses pemidahan monas dengan diangkut helikopter, ancaman kemacetan khas Jakarta yang akan pindah juga ke Makassar dan orang di Makassar yang tidak rela itu hingga dilema anak muda makassar kalau harus berlogat Jakarta dipadupadankan dengan dialek anak muda Makassar. Misalnya : "Gue sih santai ji", "Nakke (gue) Selow aja kaleus" atau "Eh tetta (bokap) loe kemane aje"
Karena memadupadankan dan melakukan asimiliasi bahasa prokem ini sungguh meribetkan anak muda Makassar. Maka diputuskan untuk menolak saja pindahnya ibukota tersebut. Belum lagi kalau pindah dengan macet-macetnya, pindah juga dengan gedung-gedung tingginya. Mau pake lahan mana coba? Perumahan saja harus ke pinggir kota atau ke Kabupaten tetangga untuk bikin rumah - rumah. Emang mau reklamasi lagi. Nambah masalah lagi dong.
Belum karena banyak pejabat lalu lalang, berati bakal sering kita terganggu dengan arus lalu lintas harus disterilkan karena 01 dan 02 RI mau lewat. Repot lagi kan.
Etapi sebenarnya aneh juga anak muda makassar malah menolak atau gak bisa adaptasi dengan bahasa prokem Jakarta loh. Soalnya, salah satu ambisi selain bisa lihat monas adalah bisa logat Jakarta loh. Itu bikin prestisenya naik menjadi anak gaul gitu.
Akhir 1990 an dan awal-awal 2000 an, banyak sekali radio 'liar' yang dibuat berbagai komunitas anak-anak muda. Memanfaatkan frekuensi radio FM yang berjalur pendek membuat radio radio anak muda tumbuh subur dan punya penggemar masing-masing. Munculnya aturan baru Komisi Penyiaran soal frekuensi lah hingga radio itu akhirnya hilang. Yang menarik dari radio-radio 'liar' tersebut adalah keseringan penyiarnya untuk berbahasa prokem Jakarta, bahkan radio yang mainstream dengan segmen anak muda pun penyiarnya malah kadang kala saya pikir memang bukan anak Makassar yang nyebut kata-kata dalam bahasa Makassar seolah asing banget.
Radio komunitas itu wajar saja harus berbicara gaul. Demam catatan Si Boy dan Ali Topan masih terasa. Belum lagi ditambah dengan Si Lupus yang semuanya menjadi idola seantero anak muda makassar. Wajar saja prilaku dan bahasanya dijiplak seantero negeri ini. Walaupun yang maksa banget akan terdengar lucu apalagi kambuh penyakit okkots (kebiasan berbicara atau juga menulis yang melebihkan huruf atau menghilangkan huruf).
Nah, kembali ke soal pemidahan Ibukota. Mengapa setelah sekian lama diidam-idamkan, menjadi warga Ibukota sepertinya tidak lagi menjadi prestise bagi anak muda Makassar. Mungkin lebih baik tidak dianggap gaul daripada harus tua di jalan karena macet. (*)
Apakah begini caranya Jokowi 'membalas' kekalahan suaranya di luar pulau Jawa? Dengan memindahkan Ibukota? Tapi giliran yang di Makassar yang menganggapnya sebagai lelucon. Lihat saja meme seperti proses pemidahan monas dengan diangkut helikopter, ancaman kemacetan khas Jakarta yang akan pindah juga ke Makassar dan orang di Makassar yang tidak rela itu hingga dilema anak muda makassar kalau harus berlogat Jakarta dipadupadankan dengan dialek anak muda Makassar. Misalnya : "Gue sih santai ji", "Nakke (gue) Selow aja kaleus" atau "Eh tetta (bokap) loe kemane aje"
Karena memadupadankan dan melakukan asimiliasi bahasa prokem ini sungguh meribetkan anak muda Makassar. Maka diputuskan untuk menolak saja pindahnya ibukota tersebut. Belum lagi kalau pindah dengan macet-macetnya, pindah juga dengan gedung-gedung tingginya. Mau pake lahan mana coba? Perumahan saja harus ke pinggir kota atau ke Kabupaten tetangga untuk bikin rumah - rumah. Emang mau reklamasi lagi. Nambah masalah lagi dong.
Belum karena banyak pejabat lalu lalang, berati bakal sering kita terganggu dengan arus lalu lintas harus disterilkan karena 01 dan 02 RI mau lewat. Repot lagi kan.
Etapi sebenarnya aneh juga anak muda makassar malah menolak atau gak bisa adaptasi dengan bahasa prokem Jakarta loh. Soalnya, salah satu ambisi selain bisa lihat monas adalah bisa logat Jakarta loh. Itu bikin prestisenya naik menjadi anak gaul gitu.
Akhir 1990 an dan awal-awal 2000 an, banyak sekali radio 'liar' yang dibuat berbagai komunitas anak-anak muda. Memanfaatkan frekuensi radio FM yang berjalur pendek membuat radio radio anak muda tumbuh subur dan punya penggemar masing-masing. Munculnya aturan baru Komisi Penyiaran soal frekuensi lah hingga radio itu akhirnya hilang. Yang menarik dari radio-radio 'liar' tersebut adalah keseringan penyiarnya untuk berbahasa prokem Jakarta, bahkan radio yang mainstream dengan segmen anak muda pun penyiarnya malah kadang kala saya pikir memang bukan anak Makassar yang nyebut kata-kata dalam bahasa Makassar seolah asing banget.
Radio komunitas itu wajar saja harus berbicara gaul. Demam catatan Si Boy dan Ali Topan masih terasa. Belum lagi ditambah dengan Si Lupus yang semuanya menjadi idola seantero anak muda makassar. Wajar saja prilaku dan bahasanya dijiplak seantero negeri ini. Walaupun yang maksa banget akan terdengar lucu apalagi kambuh penyakit okkots (kebiasan berbicara atau juga menulis yang melebihkan huruf atau menghilangkan huruf).
Nah, kembali ke soal pemidahan Ibukota. Mengapa setelah sekian lama diidam-idamkan, menjadi warga Ibukota sepertinya tidak lagi menjadi prestise bagi anak muda Makassar. Mungkin lebih baik tidak dianggap gaul daripada harus tua di jalan karena macet. (*)
Cita-cita Anarkisme dan Masyarakat Madani ala Cak Nur
Di media online saya membaca Kapolri lagi serius mencari tahu gerakan anarkis sindikalis di Indonesia. Gegara aksi vandalisme saat peringatan hari buruh 1 Mei lalu, anak-anak inipun mulai jadi target pengejaran.
Saya senyum-senyum melihat keseriusan dan kepanikan jenderal polisi itu dengan serius-seriusnya itu. Sambil ngomong kalau gerakan ini sudah lama berlangsung. Kasi dong pak Tito itu buku Perang yang Tak Pernah Dimenangkan dong.
Lagian kalau udah lama kenapa baru kemarin seriusnya. Selama ini mereka gak dianggap. Apa udah capek ngejar teroris jadi lebih senang menggunduli anak anak arco itu?
Lagian juga kenapa vandalismenya bikin sewot. Pesannya kek yang diseriusi. Lagian kalau serius belajar tentang anarkisme sindikalis itu, kok malah sibuk nyari pemimpinnya? Emang gak tahu kalau gerakan itu anti hirarki? Emang dikira itu BEM kampus yang punya ketua umum? Emang itu ormas yang punya ketua atau pimpinan yang tingggal tangkap pimpinannya atau sumpal duit dan beasiswa ketumnya maka gerakannya dengan sendirinya bisa ditumpas atau dijinakkan.
Salah satu anak anarko di Makassar yang saya perlihatkan pernyataan Kapolri itu terbahak bahak membaca keseriusan bapak bapak polisi kita.
Tapi saya tidak mau ngurus keseriusan bapak polisi yang memang tak akan pernah dianggap oleh anak anarko - sama jangan pernah berharap anak punk sejati bakal mau ngisi acara parpol atau hut bhayangkari- jadi pasti deh pak polisi bakal bertepuk sebelah tangan nantinya.
Saya cuma lagi tertarik ngomong perjuangan anarkisme ini secara umum yang saya pikir kok jadi mirip konsrp negara madaniah. Tapi ini berbeda dengan penafsiran nurcholis madjid tentang negara madani ala Rasulullah.
Eh iya. Ini kan mumpung ramadan jadi boleh dong kita ngomong berbau Islami dikaitkan dengan isu gerakan anarko itu. Ahlak alquran kalau kata Aisyah RA, istri Nabi Muhammad adalah ahlak rasulullah. Maka ada watak anarko dalamnya. Rasulullah menolak perbudakan dan tirani. Rasul menolak eksplotasi manusia. Ini terbukti dari pembebasan Bilal, budak yang dimerdekan dan menjadi sahabat rasulullah yang terkenal dengan suara azannya itu.
Rasulullah juga mengakui hak individu. Kamu harus makan dari hasil kerjamu. Kamu harus membela hak individumu. Dan orang harus menghormati hak individu orang lain.
Hirarki juga tak terlalu diminati Rasullulah. Karena alquran memberitahukan bahwa manusia adalah sama. Perbedanya di mata Tuhan hanya nilai takwa. Dalam pengaturan masyarakat pun, Rasullulah lebih mendialogkan urusan muammalah itu ketimbang memerlukan sebuah birokrasi pelik ataupun membuat sebuah pemerintahan negara. Mungkin karena Nabi Muhammad hidup di jazirah arab yang sistem masyarakatnya terbentuk dari kabilah yang terdiri dari kelompok kelompok masyarakat berdasarkan klan keluarga. Karena isinya penduduk mekkah adalah kumpulan klan klan keluarga.
Ketika ummat muslim pengikut Muhammad berhijrah mke kota Yastrib - yang kemudian berubah nama jadi madinah- masyarakat terdiri dari kelompok ansar dan muhajirin, yakni antara masyarakat asli Yastrib dan kelompok ummat muslim yang ikut hijrah. Diluarnya ada kaum nasrani yahudi dan suku-suku lain. Lalu untuk mengatur masyarakat tersebut disepakati sebuah piagam madinah. Piagam ini secara umum mengatur bagaimana masyarakat berhubungan dengan menghormati hak bersama dan hak individu.
Rasullulah adalah tempat bertanya secara spiritual dan muammalah. Beberapa kewenangan dia serahkan kepada ahlinya kepada yang ahli perang, negosiasi, kecerdasan, keuangan. Sementara beliau tetap harus mencari nafkah untuk keluarganya tidak karena, beliau Nabi lalu dapat fasilitas dan tunjangan. Bahkan dibandingkan sahabat-sahabatnya beliau jauh dari kategori kaya. Bagaimana bisa dibilang kaya kalau kadang harus (terpaksa) berpuasa karena di rumahnya tak ada makanan. Bagaimana bisa dibilang kaya bila beliau kadang tak bisa membantu keluarga anaknya Fatimah yang kehabisan makanan di rumah tangganya bersama Ali Bin Abu Thalib bersama dua cucunya Hasan dan Husain.
Sistem khilafah selepas Rasullulah wafat sendiri baru terbentuk. Hal inippun tidak terdiri dari sebuah sistem birokrasi yang ribet dan begitu hirarki. Hanya saja sistem kekhalifaan tersebut semakin kompleks lalu menjadi mirip sistem aristokrasi ala jasirah arab yang bahkan meninggalkan karakter tribalisme di daerah padang pasir tersebut.
Nah, bila Nurcholis Madjid berkata bahwa Islam tidak mengenal negara Islam hanya masyarakat madani bercorak Islam, bukankah itu sesuai dengan cita-cita Anarkisme menolak negara dan menyerahkan pengaturan masyarakat kepada kelompok - kelompok masyarakat?
Karena puasa membuat kita kurang bisa mikir terlalu keras, sebaiknya kecurigaan saya dipikirkan setelah buka puasa. Semoga bicara sedikit anarkisme ini memberi hikmah di bulan penuh berkah ini.
Walahauahlam Bishawab
Langganan:
Postingan (Atom)
cari
Memisahkan Pisang Ijo dari Sirup DHT, Itu Jahat!
Bulan ramadan yang akan membuat orang-orang Bugis Makassar di perantauan termehek-mehek pasti salah satunya adalah pisang ijo. Penganan t...
Jelajah Kopi
menjelajah kopi ke festival kopi


