Rabu, 15 Mei 2019

Memisahkan Pisang Ijo dari Sirup DHT, Itu Jahat!


Bulan ramadan yang akan membuat orang-orang Bugis Makassar di perantauan termehek-mehek pasti salah satunya adalah pisang ijo. Penganan takjil yang bentuk dan kuah santannya dirindukan.

Sayangnya usaha untuk mendupilkasi ataupun memodifikasi penganan ini selalu tidak bisa utuh memberikan seluruh kenangan dan kelezatan kuliner tradisional di kota Makassar ini.

Betapa tidak, di tanah-tanah rantau nun jauh dari angin mamiri pantai Losari itu, pisang ijo yang dianggap bisa mengobati rindu bulan ramadan di kampung itu tak memakai pasangan sejati pisang ijo, yup itu adalah sirop DHT.

Perlu diingat, komposisi penganan ini terdiri dari tiga bagian utama. Pertama; dadar pisang, dadar hijau pandan (bukan bolu pandan bosque) menjadi kulit yang membungkus pisang kepo atau pisang raja. Lalu kuah santan yang gurih dari santan dan tepung, lalu unsur ketiga adalah sirup pemanisnya mesti sirup DHT bukan yang lain apalagi mencoba-coba 'selingkuh' dengan sirup lain hanya karena lebih mahal semacam marjan itu. Itu sesungguhnya jahat!

Karena itulah, pisang ijo di perantauan tak pernah benar-benar sama dengan yang di kampung. Kenapa? ya karena mereka mengira sirup apa saja akan sama. Padahal tahukah kalian, pisang ijo dan sirup DHT adalah sepasang yang tak boleh dipisahkan. unsur batu es dan susu kental manis hanya komodifikasi saja. Percayalah!

Sirup DHT itu sendiri hanya diproduksi di Makassar, saat ini lokasi pabriknya berada di daerah Macanda, Tamarunang, Sungguminasa, Kabuapten Gowa, tak jauh dari ibukota Provinsi Sulawesi Selatan, kota Makassar.

Uniknya, sirop DHT tak punya cabang, yang ada lokasinya yang berpindah, nyaris keselurahan dari apa yang berhubungan dengan DHT ini masih terjebak dengan masa lalunya, lalu membuat DHT menjadi sebuah legend kini malah mirip sebuah mitos itu sendiri, yang membawa kutukan kepada beberapa penganan yang tak utuh rasanya bila tak memakai sirup DHT.

Beberapa yang tak berubah dari masa lalu sirup ini seperti, tak punya cabang atau memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta sejak puluhan tahun ini (saat ini perusahaan pembuata sirup ini sudah dipegang oleh generasi ketiga). Juga sirupnya masih tetap sama dari sebuah botol kaca, hanya yang dijual grosiranlah yang kadang memakai jerigen plastik 2 liter atau 5 liter. Botol kaca itu berguna untuk mempertahankan aroma khas dan rasa sirup ini. Padahal, unsur yang terkandung biasa saja, sebanyak 65 persen adalah gula (makanya petunjuk pemakaiannya jangan terlalu banyak, secukupnya) anehnya, tersiar kabar dari dulu bila sirup ini bisa jadi obat diabates loh. Sayangnya itu tidak pernah tercantum dalam labelnya, itu hanya diakbarkan dari mulut ke mulut yang sudah membuat sirup DHT menjadi mitos.

Yang tak berubah adalah label kemasannya, gambar pisang ambon yang dan nama merek dagang sirup DHT Pisang Ambon karena ekstrak perasa aromanya memang berasa pisang ambon. Lalu ditambahi dengan gambar buah-buah lain yang tidak berhubungan sama sekali dengan bahan baku sirup yang sudah dijual Rp30 ribu per botolnya. Bisa didapatkan lebih rumah bila anda mau jalan-jalan di sepanjang jalan Syek Yusuf, Katangka, Gowa yang menjadi jalan pembatas kabupaten Gowa dan kota Makassar. Di sana anda akan melihat jejeran penjual sirup DHT dalam jerigen-jerigen plastik putih saat bulan ramadan seperti sekarang.

Nah yang juga -mestinya- tak berubah adalah sirup DHT adalah pasangan sejati pisang ijo, tak tergantikan, always forever!

Mukjizat Doa



Apa yang masih tersisa dari kepercayaan saya? Jawabnya mungkin sisa doa. Dahulu saya pernah membaca tulisan dari Jalaluddin Rachmat. Tentang kekuatan doa.

Kang Jalal, panggilan akrab kang Jalal itu bercerita tentang sebuah penilitian botani. Dua buah pot tanaman mendapatkan perlakuan yang sama, diberi pupuk dan jenis tanah serta bibit yang sama. Disiram serta dirawat sama. Yang membedakan hanya satu pot tanaman didoakan satu pot lainnya tidak.

Hasilnya setelah berbulan bulan kemudian, ditemukan hasilnya. Pot tanaman yang didoakan tersebut lebih subur dan tumbuh lebih baik ketimbang pot tanaman yang tidak di doakan.

Saya percaya bahkan doa adalah semacam tombol panik yang selalu siap siaga bagi saya dalam kondisi genting. Beberapa kali itu terjadi. Menjadi semacam mukjizat.

Misalnya, saat saya panik dan nyaris putus asa saat mencukupkan uang untuk pernikahan. Ketila itu saya sudah kehabisan akal. Waktu yang kian mepet dan sepertinya seluruh saluran yang bisa menghasilkan uang sudah saya coba. Hasilnya tak  bisa mencukupkan lebih dari setengah uang yang mesti saya kumpulkan.

Lalu saya pasrah. Berdoa dan bertaubat. Ini nasihat beberapa orang sebenarnya. Saya yang biasanya keras kepala atas nasihat tidak punya opsi lain. Saya menyerah, dan mulai pasrah dengan berdoa. Saya menyerahkan seluruh ikhtiar kepada Tuhan yang mengatur jodoh, rezeki dan ajal itu.

Tak memerlukan sampai esok hari. Tangan Tuhan mulai bekerja, satu per satu pintu pertolongan seolah terbuka. Sampai kemudian saya sendiri bingub dan selalu berkata dalam diri sendiri. Kok bisa ya?

Atau kala saya masih hidup berpetualang. Saya suka berada dalam kondiai kepepet atau kesusahan. Yang paling sering adalah tidak pinya duit. Saya pernah tiga hari berturut turut hanya makan sebatang coklat silverquen yang saya makan atau saya jadikan susu coklat. Untung coklat tersebut berukuran besar. Dengan perut lapar saya tiba-tiba berdoa mengadu hingga menetes air mata. Saya keluar rumah. Saya menjual beberapa buku lalu tanpa diduga bertemu seorang teman lama mengajak nongkrong dan membawa ke seorang salah satu tokoh pemuda yang cukup sukseks di kota itu dan saya pun diajak ke tempatnya. Di sana ia punya banyak persedian makanan, kopi, gula teh dan Lain-lain. Bahkan memberi ongkos transportasi waktu itu.

Saya juga pernah sudah sangat rindu pada rumah dan ibu saya. Padahal saat itu jangankan tiket pulang buat makan pun susah. Setelah menyempatkan singgah di mushollah saya pun keluar berjalan tanpa arah hingga menemukan uang seratusan ribu rupiah. Kala itu 100 ribu bisa dipakai untuk beli tiket kapal. Apalagi hanya bermodal betul betul hanya 100 ribu. Lalu saya berdoa dan memantapkan hati ke pelabuhan. Setelah mengisi perut ala kadarnya saya pun berangkat. Singkat cerita setelah melalui beberapa hal dan drama perjalanan. Saya ingat saya tiba di pelabuhan Makassar dengan sisa uang 10 ribu. Cukuplah untuk membeli semangkok coto dan ongkos pete - pete.

Kepercayaan saya pada doa dibarengin beberapa kesimpulan. Hasil dari doa nyata dan sesuai yang dibutuhkan. Saya selalu mendapatkan apa yang saya butuhkan dalam keadaan mendesak tersebut. Hal sesuai kebutuhan itu juga berfampak sangat luar biasa. Seperti saat butuh makan, sebatang coklat pun sudah sangat cukup. Sebab apa gunanya banyak duit misalnya tapi kita cuma bisa - atas permintaan dokter - makan sayur itupun tanpa garam dan bumbu apapun.

Kedua saya meyakini doa dan apa yang saya minta. Selain karena dalam berdoa saya betul betul memohon petolongan. (#)

Selasa, 14 Mei 2019

Dilema Anak Muda Makassar Bila Ibukota Pindah dari Jakarta.




Tiba - tiba kabinet Jokowi Jusuf Kalla bersidang akhir bulan kemarin ketika kabar meninggalnya petugas KPPS semakin banyak. Sidang yang tidak biasanya itu menghasilkan keputusan yang cukup penting dan mengagetkan. Bukan karena hasil keputusannya yang memang dari dulu selalu jadi wacana. Tapi terasa tiba-tibanya itu. Ibukota negara disepakati akan dipindahkan ke luar dari Pulau Jawa. Dua opsinya, kalau dak pulau Kalimantan dengan Palangkaraya calon terkuat juga pulau Sulawesi dengan kota Makassar sebagai calon terkuatnya.

Apakah begini caranya Jokowi 'membalas' kekalahan suaranya di luar pulau Jawa? Dengan memindahkan Ibukota? Tapi giliran yang di Makassar yang menganggapnya sebagai lelucon. Lihat saja meme seperti proses pemidahan monas dengan diangkut helikopter, ancaman kemacetan khas Jakarta yang akan pindah juga ke Makassar dan orang di Makassar yang tidak rela itu hingga dilema anak muda makassar kalau harus berlogat Jakarta dipadupadankan dengan dialek anak muda Makassar. Misalnya : "Gue sih santai ji", "Nakke (gue) Selow aja kaleus" atau "Eh tetta (bokap) loe kemane aje"

Karena memadupadankan dan melakukan asimiliasi bahasa prokem ini sungguh meribetkan anak muda Makassar. Maka diputuskan untuk menolak saja pindahnya ibukota tersebut. Belum lagi kalau pindah dengan macet-macetnya, pindah juga dengan gedung-gedung tingginya. Mau pake lahan mana coba? Perumahan saja harus ke pinggir kota atau ke Kabupaten tetangga untuk bikin rumah - rumah. Emang mau reklamasi lagi. Nambah masalah lagi dong.

Belum karena banyak pejabat lalu lalang, berati bakal sering kita terganggu dengan arus lalu lintas harus disterilkan karena 01 dan 02 RI mau lewat. Repot lagi kan.


Etapi sebenarnya aneh juga anak muda makassar malah menolak atau gak bisa adaptasi dengan bahasa prokem Jakarta loh. Soalnya, salah satu ambisi selain bisa lihat monas adalah bisa logat Jakarta loh. Itu bikin prestisenya naik menjadi anak gaul gitu.

Akhir 1990 an dan awal-awal 2000 an, banyak sekali radio 'liar' yang dibuat berbagai komunitas anak-anak muda. Memanfaatkan frekuensi radio FM yang berjalur pendek membuat radio radio anak muda tumbuh subur dan punya penggemar masing-masing. Munculnya aturan baru Komisi Penyiaran soal frekuensi lah hingga radio itu akhirnya hilang. Yang menarik dari radio-radio 'liar' tersebut adalah keseringan penyiarnya untuk berbahasa prokem Jakarta, bahkan radio yang mainstream dengan segmen anak muda pun penyiarnya malah kadang kala saya pikir memang bukan anak Makassar yang nyebut kata-kata dalam bahasa Makassar seolah asing banget.

Radio komunitas itu wajar saja harus berbicara gaul. Demam catatan Si Boy dan Ali Topan masih terasa. Belum lagi ditambah dengan Si Lupus yang semuanya menjadi idola seantero anak muda makassar. Wajar saja prilaku dan bahasanya dijiplak seantero negeri ini. Walaupun yang maksa banget akan terdengar lucu apalagi kambuh penyakit okkots (kebiasan berbicara atau juga menulis yang melebihkan huruf atau menghilangkan huruf).

Nah, kembali ke soal pemidahan Ibukota. Mengapa setelah sekian lama diidam-idamkan, menjadi warga Ibukota sepertinya tidak lagi menjadi prestise bagi anak muda Makassar. Mungkin lebih baik tidak dianggap gaul daripada harus tua di jalan karena macet. (*)

Cita-cita Anarkisme dan Masyarakat Madani ala Cak Nur

sumber google


Di media online saya membaca Kapolri lagi serius mencari tahu gerakan anarkis sindikalis di Indonesia. Gegara aksi vandalisme saat peringatan hari buruh 1 Mei lalu, anak-anak inipun mulai jadi target pengejaran.

Saya senyum-senyum melihat keseriusan dan kepanikan jenderal polisi itu dengan serius-seriusnya itu. Sambil ngomong kalau gerakan ini sudah lama berlangsung. Kasi dong pak Tito itu buku Perang yang Tak Pernah Dimenangkan dong.

Lagian kalau udah lama kenapa baru kemarin seriusnya. Selama ini mereka gak dianggap. Apa udah capek ngejar teroris jadi lebih senang menggunduli anak anak arco itu?

Lagian juga kenapa vandalismenya bikin sewot. Pesannya kek yang diseriusi. Lagian kalau serius belajar tentang anarkisme sindikalis itu, kok malah sibuk nyari pemimpinnya? Emang gak tahu kalau gerakan itu anti hirarki? Emang dikira itu BEM kampus yang punya ketua umum? Emang itu ormas yang punya ketua atau pimpinan yang tingggal tangkap pimpinannya atau sumpal duit dan beasiswa ketumnya maka gerakannya dengan sendirinya bisa ditumpas atau dijinakkan.

Salah satu anak anarko di Makassar yang saya perlihatkan pernyataan Kapolri itu terbahak bahak membaca keseriusan bapak bapak polisi kita.

Tapi saya tidak mau ngurus keseriusan bapak polisi yang memang tak akan pernah dianggap oleh anak anarko - sama jangan pernah berharap anak punk sejati bakal mau ngisi acara parpol atau hut bhayangkari- jadi pasti deh pak polisi bakal bertepuk sebelah tangan nantinya.

Saya cuma lagi tertarik ngomong perjuangan anarkisme ini secara umum yang saya pikir kok jadi mirip konsrp negara madaniah. Tapi ini berbeda dengan penafsiran nurcholis madjid tentang negara madani ala Rasulullah.

Eh iya. Ini kan mumpung ramadan jadi boleh dong kita ngomong berbau Islami dikaitkan dengan isu gerakan anarko itu. Ahlak alquran kalau kata Aisyah RA, istri Nabi Muhammad adalah ahlak rasulullah. Maka ada watak anarko dalamnya. Rasulullah menolak perbudakan dan tirani. Rasul menolak eksplotasi manusia. Ini terbukti dari pembebasan Bilal, budak yang dimerdekan dan menjadi sahabat rasulullah yang terkenal dengan suara azannya itu.

Rasulullah juga mengakui hak individu. Kamu harus makan dari hasil kerjamu. Kamu harus membela hak individumu. Dan orang harus menghormati hak individu orang lain.

Hirarki juga tak terlalu diminati Rasullulah. Karena alquran memberitahukan bahwa manusia adalah sama. Perbedanya di mata Tuhan hanya nilai takwa. Dalam pengaturan masyarakat pun, Rasullulah lebih mendialogkan urusan muammalah itu ketimbang memerlukan sebuah birokrasi pelik ataupun membuat sebuah pemerintahan negara. Mungkin karena Nabi Muhammad hidup di jazirah arab yang sistem masyarakatnya terbentuk dari kabilah yang terdiri dari kelompok kelompok masyarakat berdasarkan klan keluarga. Karena isinya penduduk mekkah adalah kumpulan klan klan keluarga.

Ketika ummat muslim pengikut Muhammad berhijrah mke kota Yastrib - yang kemudian berubah nama jadi madinah- masyarakat terdiri dari kelompok ansar dan muhajirin, yakni antara masyarakat asli Yastrib dan kelompok ummat muslim yang ikut hijrah. Diluarnya ada kaum nasrani yahudi dan suku-suku lain. Lalu untuk mengatur masyarakat tersebut disepakati sebuah piagam madinah. Piagam ini secara umum mengatur bagaimana masyarakat berhubungan dengan menghormati hak bersama dan hak individu.

Rasullulah adalah tempat bertanya secara spiritual dan muammalah. Beberapa kewenangan dia serahkan kepada ahlinya kepada yang ahli perang, negosiasi, kecerdasan, keuangan. Sementara beliau tetap harus mencari nafkah untuk keluarganya tidak karena, beliau Nabi lalu dapat fasilitas dan tunjangan. Bahkan dibandingkan sahabat-sahabatnya beliau jauh dari kategori kaya. Bagaimana bisa dibilang kaya kalau kadang harus (terpaksa) berpuasa karena di rumahnya tak ada makanan. Bagaimana bisa dibilang kaya bila beliau kadang tak bisa membantu keluarga anaknya Fatimah yang kehabisan makanan di rumah tangganya bersama Ali Bin Abu Thalib bersama dua cucunya Hasan dan Husain.

Sistem khilafah selepas Rasullulah wafat sendiri baru terbentuk. Hal inippun tidak terdiri dari sebuah sistem birokrasi yang ribet dan begitu hirarki. Hanya saja sistem kekhalifaan tersebut semakin kompleks lalu menjadi mirip sistem aristokrasi ala jasirah arab yang bahkan meninggalkan karakter tribalisme di daerah padang pasir tersebut.

Nah, bila Nurcholis Madjid berkata bahwa Islam tidak mengenal negara Islam hanya masyarakat madani bercorak Islam, bukankah itu sesuai dengan cita-cita Anarkisme menolak negara dan menyerahkan pengaturan masyarakat kepada kelompok - kelompok masyarakat?

Karena puasa membuat kita kurang bisa mikir terlalu keras, sebaiknya kecurigaan saya dipikirkan setelah buka puasa. Semoga bicara sedikit anarkisme ini memberi hikmah di bulan penuh berkah ini.

Walahauahlam Bishawab

Senin, 15 April 2019

Ironi dalam Peradaban Bercahaya Listrik


(catatan usai menonton film dokumenter Sexy Killers)

Ada ketidakbahagian dibalik kebahagian kita menikmati listrik di rumah. Ketidakbahagian yang berakhir maut bagi Novi yang berbulan-bulan menderita kanker akibat terpapar polutan batubara dari PLTU Panau di Palu. Satu dari sekian potret rakyat yang terdampak atas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbahan baku batubara

Ketidakbahagian yang sama dirasakan petani di sekitar pembangunan mega proyek PLTU Batang, Jawa Tengah. Begitupun para nelayan yang mencari ikan di sekitar perairan Karimun Jawa dan juga Bali.

Hal ini digambarkan dengan gambar dan plot yang menyentuh dari film dokumenter produksi Watchdoc Documentary karya Danny Laksono berjudul Sexy Killers.

Saya diundang menjadi pemantik untuk diskusi dan nonton bareng film ini oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar di sekertariatnya, malam 10 April 2019 lalu.

Film ini hendak menginterupsi kebahagian kita dalam menikmati kehidupan nan fana ini dalam gemerlap cahaya dari tonggak penemuan masyarakat modern bernama listrik. Tingkat kebutuhan pada energi yang memberikan tenaga listrik ini semakin melonjak saja. Dari sekedar menjaga handphone kita tetap standby agar tak dituding sedang melakukan apa-apa oleh pasangan karena hp yang sedang off, hingga mengatasi kejengkelan kita menyaksikan klub kebanggan kita bermain di lapangan sepakbola yang memerlukan ratusan watt untuk menerangi pertandingan yang dilakukan di malam hari.

Walaupun fana, hidup yang menyenangkan dengan sungguh-sungguh kita nikmati, kita usahakan dengan sebaik-baiknya dengan setekun-tekunnya. Anehnya kita tak cukup puas. Kita meminta peradaban membangunkan segala macam produk kebudayaan untuk memberikan fasilitas pada kesenangan dan kebahagian. Tetapi peradaban tak menyenangkan bagi semua orang. Harus ada yang ditumbalkan untuk itu.

Demi menjaga listrik tetap menyala dan menghindari makian warga atas matinya sejam saja listrik, pemerintah mengupayakan listrik. Pembangunan pembangkit listrik itu pun tentu harus menguntungkan bagi investornya. Karena hukum bisnisnya begitu. Maka dicarilah yang paling murah dan ekonomis sebagai bahan bakunya. Barubara menjadi konsumsi terbanyak dari PLTU itu. Dan pulau Kalimantan yang terbesar menyumbang batubaranya untuk dipakai.

Karena menguntungkan, sekelompok orang ingin menguasai ini. Baik dari hulu hingga hilir. Kalau perlu terkoneksi dari tambang batubara hingga PLTU. Ditambah lagi yang menentukan kebijakannya baik legislatif, eksekutif hingga yudikatifnya dalam satu lingkaran. Jadilah oligarki politik. Yang dasyat bila semua yang berlaga yang tampil seolah-olah bersaing beradu dalam konstetasi politik rupanya adalah satu kelompok yang sama. Kita hanya melihat pelaksanaan demokrasi yang seolah-olah demokrasi. Kita hanya melihat sandiwara Pemilu, Pilpres ataupun Pilkada.

Suara-suara minor, yang berjarak selemparan batu anak kecil dari belakang rumahnya, bahkan hanya berjarak lima centimeter dari hidungnya itulah yang diredam dan tak terekspose dari keriuhan politik di media-media -oh iya media media besar ini pun dimiliki oleh para oligarki tersebut-  karena itupula publik mesti berterima kasih kepada orang-orang seperti mas Dandhy yang rela merogoh kocek tabungannya untuk dihabiskan berkeliling Indonesia. Bukan untuk merekam panorama keindahan negeri kaya hayati dan laut ini. Tetapi untuk merekam suara-suara minor. Dan juga ironi-ironi yang terus berulang dari pemilu ke pemilu. Dari rezim ke rezim lainnya. Dari Leisure dan traveling-traveling.

Peradaban yang menyerahkan sepenuhnya kepada nafsu manusia hanya akan melahirkan manusia-manusia serakah. Peradaban yang mendekatkan dan memasrahkan diri pada mekanisme alam akan mencoba untuk mengerti dan berjalan beriring-iringan. Kita tak bisa berdiam sembari mengutuki gelap karena pemadaman listrik. Kita masih berharap pada listrik yang dihasilkan dari tenaga angin atau matahari.

Kita tak harus berburu dengan waktu dan melahirkan teknologi yang instan tapi merusak ekosistem. Kita tak perlu berkecil hati untuk akhrinya pesimis bahwa kita hanya sendiri atau segelintir untuk bisa melawan raksasa bernama oligarki itu. Kita bisa bergerak bersama dalam barisan civil society yang beradab dan kuat.(*)

Jumat, 12 April 2019

Melawan Stigma Hoaks



Pada sebuah acara diskusi yang dibuat oleh HMI Komisariat Perguruan Tinggi Fajar dua pekan lalu. Salah satu kegelisahan yang saya bagi dan menjadi poin penting tanggapan saya soal pemilu adalah tentang kampanye melawan hoaks.

Hoaks yang menjadi term atau istilah yang menjadi familiar bagi rakyat Indonesia di tahun politik sekarang. Sebuah konsekuensi ketika teknologi internt dengan sosial media yang bebas saat ini membuka ruang besar bagi penggunanya - yang diistilahkan dengan warga net atau netizen- untuk menanggapi dan berbicara apa saja.

Menanggapi hal tersebut, negara sudah membuat UU ITE yang akan menjerat para pengguna yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan fitnah dan kabar bohong. Seringkali UU ITE ini dipakai oleh pejabat publik atau publik figur untuk menjerat netizen-netizen nakal tersebut.

Menjelang beberapa bulan sebelum 17 April 2019, atau menjelang pelaksanaan Pemilu 2019. Term hoax semakin viral. Terutama sekaitan dengan dukung mendukung calon presiden dan wakil presiden.

Aparat Kepolisian dari pusat hingga Polsek mengampanyekan gerakan lawan hoak tersebut. Narasi ini semakin besar dan kuat didengungkan oleh pemerintah terutama pada sosok Presiden Jokowi yang kembali mencalonkan diri dalam Pilpres yang tinggal beberapa hari ini.

Bahkan berbagai instansi pemerintahan terutama pemerintah pusat merasa perlu mengampanyekan untuk Lawan Hoaks tersebut. Narasi yang terlalu besar (atau mungkin dibesar-besarkan) ini ditambah dengan instrumen menakut-nakuti seperti memperlihatkan contoh kasus dimana polisi dengan gerak cepat menangkapi dan memproses kasus tersebut. Yang terakhir untuk menakut-nakuti juga sempat Mekopolhukam Wiranto membuat wacana untuk memasukkan pelanggar hoaks ini dalam UU Anti Terorisme.

Berikutnya, wacana lawan hoaks ini menjadi term yang identik kepada kubu petahana Jokowi, karena memasuki masa kampanye resmi, Jokowi mengulang-ngulang narasi tentang dirinya yang sering difitnah dan menjadi korban hoaks tersebut.

Lawan hoaks juga tidak menjadi jelas lagi apakah isi kampanye politik dari Jokowi atau program pemerintah. Seperti kadang saya bingung apakah para menteri dan presiden sedang kunjungan kerja atau sedang melangsungkan kampanye. Karena doi tidak mau cuti.

Karena narasi ini diulang-ulang dan massif dikampanyekan, saya kok jadi curiga ini sebuah stigma yang ingin ditanam dibenak masyarakat. Bahwa semua yang negatif terkait pemerintah dan Jokowi adalah hoaks/bohong. Dan apapun yang disampaikan kubu rivalnya beserta pendukungnya atau yang disangkakan melakukan hoaks itu pasti penyebar hoaks.

Karena stigma, ini menjadi seperti stigma yang diberikan soal komunis atau PKI. Kita tidak lagi membedakan yang mana sebenarnya dan mana yang pura-pura. Kedua, kalau ini tertanam dibenak masyarakat, maka pihak yang menanamkan ini akan meraih keuntungan dengan bisa melakukan apa saja atau kecurangan saat pemilu tanpa perlu khawatir terbongkar. Paling mereka hanya akan bilang "ah itu hoaks doang".

Selanjutnya, saya membahas soal defenisi atas kebenaran. Sederahanya hoaks diartikan adalah kabar bohong yang tidak sesuai fakta, atau informasi yang tidak punya fakta.

Pertanyaan kritisnya, apakah informasi yang tak punya fakta maka serta merta bohong dan tidak benar? bisa jadi informasi itu hanyalah petunjuk pada sebuah kebenaran yang disembunyikan atau petunjuk pada sebuah kejahatan yang akan dilakukan.

Dalam filsafat barat, ada tiga teori kebenaran, yakni Kebenaran Pragmatis, digtumnya "Sesuatu itu benar kalau ada manfaatnya, kalau tidak ada itu tidak benar" contohnya, apakah memercayai Tuhan itu ada atau tidak menurut teori ini tergantung apakah ada manfaatnya. Kebenaran informasi yang dituding hoaks tergantung apa manfaatnya informasi tersebut bila benar atau pun tidak benar. Yang mendapat manfaatnya akan bilang itu benar dan percaya itu benar, sementara yang tidak mendapat manfaat dari itu dengan sendirinya akan bilang itu tidak benar.

Kedua, kebenaran Korespondensi; teori ini bilang, kebenaran hanya benar bila disampaikan oleh orang yang representatif serta kapabel menyampaikannya, contohnya diognasa seseorang mengidap kanker tentu harus disampaikan oleh dokter. Tetapi di abad kemajuan internet sekarang ini, kita melihat siapa saja bisa menjadi pakar, kata Eka Kurniawa di tulisannya di koran Jawa Pos hari minggu lalu "Pakar Publik" ini plus minusnya internet atau sosial media, orang bisa jadi pakar tanpa stempel kepakaran dari institusi pendidikan. Ketiga teori kebenaran kohesi, dimana teori ini bilang kebenarna harus berkesesuaian dengan fakta. Suara mobil dikejauhan kebenaranya kalau kita melihat sendiri ada mobil yang lewat, atau aroma busuk di tong sampah tidak bisa dibilang kebenaran kalau kita tidak melihat sendiri ada bangkai di dalam tong sampah.

Sebenarnya soal hoaks mestinya ditangani dengan penguatan literasi media masyarakat. Mengonfirmasi dan menalar informasi perlu dilakukan. Apalagi ditengah ketidakpercayaan publik atas politik dan penegak hukum. Juga ketidakpercayaan pada media mainstream.

Masyarakat memang perlu terus belajar mengasah akal sehat agar tidak selalu menjadi korban penipuan para elit. Tetapi sebelumnya kita lawan dulu stigma hoaks.(*)




Kamis, 01 November 2018

DI DALAM SEPI

diambil dari pinterest




Di dalam sepi yang paling bungkam
kita hanya bisa mengerjapkan rindu pada mata purba
Di dalam sepi yang paling muram
Abjad di setengah malam setengah sadar
Adalah siklus ilusi birahi yang terperangkap dalam puisi kian usang

                     Kata kata menjadi murah di lidah dusta
                     Harapan menjadi buih yang paling
                     Mudah meletup ditengah
                     orang-orang yang menjadi buas        
                     ketika lapar
                     Kata kata tak menunda apa apa
                     Tak ditunggu siapa siapa
                     Dan dirindu hanya sepi

Di dalam sepi tak bertepi
Hanyalah kelamin yang menunda pecah 

cari

Memisahkan Pisang Ijo dari Sirup DHT, Itu Jahat!

Bulan ramadan yang akan membuat orang-orang Bugis Makassar di perantauan termehek-mehek pasti salah satunya adalah pisang ijo. Penganan t...

Jelajah Kopi

Jelajah Kopi
menjelajah kopi ke festival kopi