Rabu, 31 Oktober 2018

Cara Sendu Kehilangan Ketidakbahagian





(oleh : IRWAN.AR)
Pada pematang, kakiku berjalan di tanah yang lesap ke kulit dan basah. Pada pematang pagi belia, terlalu awal. Tetapi bagaimanapun dogmadogma selalu jadi ritus sarapan kita.

Diantara bulir padi ada kenangan masam hendak berlepasan dari senyum yang baru saja berpapasan ketika dengan binar engkau berkata: ini musim omong kosong, pembual bertebaran dari baliho dan papanpapan reklame. mememekak dari kotak tivi.

Pada pematang aku menyeret kaki melangkah jauh, bukan pergi atau pulang. Hanya sesat dalam sesak semak semak.

Lalu kita menghitung bulirbulir air mata dari mata air perasaan yang menganga. Tetapi betapa kufurnya kita yang menyembah perasaan dengan menghitung bilangan. Bukankah begitu cara kita kehilangan kebahagiaan?
Lalu aku menyudahi rasa sakit dan ketidakbahagian dengan terbang tak kembali pada pematang.
(2018)

nb: puisi ini telah diterbitkan dalam buku antologi puisi "Kuantar Kau Ke Makassar" untuk Fiction Writer F8 Makassar

Membaca Renungan Ramadan Ami Ibrahim





Saya berada di titik diri yang paling tergerus ketika terdampar di sudut dalam kafe kopisentris.

Lalu saya membaca sebuah novel karya Dag Solstad, novelis Norwegia yang banyak bercerita tentang keterasingan dalam masyarakat kontemporer.

Selang selingnya saya Membaca metamorfosa yang menjadi semacam petunjuk-tidak-teknis perihal merasakan rasa lapar dan atmosfir puasa itu sendiri.

Ulasan seorang penyair dan perenung hidup (dengan segenap hiruk pikuknya) diocehkanlah dengan liris lalu lintas perasaannya tentang makna ramadan bagi diri seorang kakak @ami_ibrahim iyya bukan penkhotbah resmi di bulan ramadan sebab ia bukan sarjana dakwah islam, apalagi juga bukan ahli tafsir lulusan al-azhar yang punya kewenangan otoritatif hal fiqiah perihal ibadah puasa.

Namun ia bisa saja mencuil selembar dua lembar perasaannya dan pikirannya tentang rasa lapar dan atomosfir ramadan itu sendiri. Maka dia mesti dibaca sebagai tafsir seorang penyair atas rasa lapar nya.

Walaupun tulisan di metamorfosis didaku ulasan ringan, namun malah seringkali memantik pikiran atau bahkan menjerumuskan kita kedalam permenungan yang menjadi semacam upaya sublimasi kehidupan.

Tak percaya? Bacalah metamorfosis karya Ami Ibrahim

cari

Memisahkan Pisang Ijo dari Sirup DHT, Itu Jahat!

Bulan ramadan yang akan membuat orang-orang Bugis Makassar di perantauan termehek-mehek pasti salah satunya adalah pisang ijo. Penganan t...

Jelajah Kopi

Jelajah Kopi
menjelajah kopi ke festival kopi