Rabu, 15 Mei 2019

Mukjizat Doa



Apa yang masih tersisa dari kepercayaan saya? Jawabnya mungkin sisa doa. Dahulu saya pernah membaca tulisan dari Jalaluddin Rachmat. Tentang kekuatan doa.

Kang Jalal, panggilan akrab kang Jalal itu bercerita tentang sebuah penilitian botani. Dua buah pot tanaman mendapatkan perlakuan yang sama, diberi pupuk dan jenis tanah serta bibit yang sama. Disiram serta dirawat sama. Yang membedakan hanya satu pot tanaman didoakan satu pot lainnya tidak.

Hasilnya setelah berbulan bulan kemudian, ditemukan hasilnya. Pot tanaman yang didoakan tersebut lebih subur dan tumbuh lebih baik ketimbang pot tanaman yang tidak di doakan.

Saya percaya bahkan doa adalah semacam tombol panik yang selalu siap siaga bagi saya dalam kondisi genting. Beberapa kali itu terjadi. Menjadi semacam mukjizat.

Misalnya, saat saya panik dan nyaris putus asa saat mencukupkan uang untuk pernikahan. Ketila itu saya sudah kehabisan akal. Waktu yang kian mepet dan sepertinya seluruh saluran yang bisa menghasilkan uang sudah saya coba. Hasilnya tak  bisa mencukupkan lebih dari setengah uang yang mesti saya kumpulkan.

Lalu saya pasrah. Berdoa dan bertaubat. Ini nasihat beberapa orang sebenarnya. Saya yang biasanya keras kepala atas nasihat tidak punya opsi lain. Saya menyerah, dan mulai pasrah dengan berdoa. Saya menyerahkan seluruh ikhtiar kepada Tuhan yang mengatur jodoh, rezeki dan ajal itu.

Tak memerlukan sampai esok hari. Tangan Tuhan mulai bekerja, satu per satu pintu pertolongan seolah terbuka. Sampai kemudian saya sendiri bingub dan selalu berkata dalam diri sendiri. Kok bisa ya?

Atau kala saya masih hidup berpetualang. Saya suka berada dalam kondiai kepepet atau kesusahan. Yang paling sering adalah tidak pinya duit. Saya pernah tiga hari berturut turut hanya makan sebatang coklat silverquen yang saya makan atau saya jadikan susu coklat. Untung coklat tersebut berukuran besar. Dengan perut lapar saya tiba-tiba berdoa mengadu hingga menetes air mata. Saya keluar rumah. Saya menjual beberapa buku lalu tanpa diduga bertemu seorang teman lama mengajak nongkrong dan membawa ke seorang salah satu tokoh pemuda yang cukup sukseks di kota itu dan saya pun diajak ke tempatnya. Di sana ia punya banyak persedian makanan, kopi, gula teh dan Lain-lain. Bahkan memberi ongkos transportasi waktu itu.

Saya juga pernah sudah sangat rindu pada rumah dan ibu saya. Padahal saat itu jangankan tiket pulang buat makan pun susah. Setelah menyempatkan singgah di mushollah saya pun keluar berjalan tanpa arah hingga menemukan uang seratusan ribu rupiah. Kala itu 100 ribu bisa dipakai untuk beli tiket kapal. Apalagi hanya bermodal betul betul hanya 100 ribu. Lalu saya berdoa dan memantapkan hati ke pelabuhan. Setelah mengisi perut ala kadarnya saya pun berangkat. Singkat cerita setelah melalui beberapa hal dan drama perjalanan. Saya ingat saya tiba di pelabuhan Makassar dengan sisa uang 10 ribu. Cukuplah untuk membeli semangkok coto dan ongkos pete - pete.

Kepercayaan saya pada doa dibarengin beberapa kesimpulan. Hasil dari doa nyata dan sesuai yang dibutuhkan. Saya selalu mendapatkan apa yang saya butuhkan dalam keadaan mendesak tersebut. Hal sesuai kebutuhan itu juga berfampak sangat luar biasa. Seperti saat butuh makan, sebatang coklat pun sudah sangat cukup. Sebab apa gunanya banyak duit misalnya tapi kita cuma bisa - atas permintaan dokter - makan sayur itupun tanpa garam dan bumbu apapun.

Kedua saya meyakini doa dan apa yang saya minta. Selain karena dalam berdoa saya betul betul memohon petolongan. (#)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

cari

Memisahkan Pisang Ijo dari Sirup DHT, Itu Jahat!

Bulan ramadan yang akan membuat orang-orang Bugis Makassar di perantauan termehek-mehek pasti salah satunya adalah pisang ijo. Penganan t...

Jelajah Kopi

Jelajah Kopi
menjelajah kopi ke festival kopi