Tiba - tiba kabinet Jokowi Jusuf Kalla bersidang akhir bulan kemarin ketika kabar meninggalnya petugas KPPS semakin banyak. Sidang yang tidak biasanya itu menghasilkan keputusan yang cukup penting dan mengagetkan. Bukan karena hasil keputusannya yang memang dari dulu selalu jadi wacana. Tapi terasa tiba-tibanya itu. Ibukota negara disepakati akan dipindahkan ke luar dari Pulau Jawa. Dua opsinya, kalau dak pulau Kalimantan dengan Palangkaraya calon terkuat juga pulau Sulawesi dengan kota Makassar sebagai calon terkuatnya.
Apakah begini caranya Jokowi 'membalas' kekalahan suaranya di luar pulau Jawa? Dengan memindahkan Ibukota? Tapi giliran yang di Makassar yang menganggapnya sebagai lelucon. Lihat saja meme seperti proses pemidahan monas dengan diangkut helikopter, ancaman kemacetan khas Jakarta yang akan pindah juga ke Makassar dan orang di Makassar yang tidak rela itu hingga dilema anak muda makassar kalau harus berlogat Jakarta dipadupadankan dengan dialek anak muda Makassar. Misalnya : "Gue sih santai ji", "Nakke (gue) Selow aja kaleus" atau "Eh tetta (bokap) loe kemane aje"
Karena memadupadankan dan melakukan asimiliasi bahasa prokem ini sungguh meribetkan anak muda Makassar. Maka diputuskan untuk menolak saja pindahnya ibukota tersebut. Belum lagi kalau pindah dengan macet-macetnya, pindah juga dengan gedung-gedung tingginya. Mau pake lahan mana coba? Perumahan saja harus ke pinggir kota atau ke Kabupaten tetangga untuk bikin rumah - rumah. Emang mau reklamasi lagi. Nambah masalah lagi dong.
Belum karena banyak pejabat lalu lalang, berati bakal sering kita terganggu dengan arus lalu lintas harus disterilkan karena 01 dan 02 RI mau lewat. Repot lagi kan.
Etapi sebenarnya aneh juga anak muda makassar malah menolak atau gak bisa adaptasi dengan bahasa prokem Jakarta loh. Soalnya, salah satu ambisi selain bisa lihat monas adalah bisa logat Jakarta loh. Itu bikin prestisenya naik menjadi anak gaul gitu.
Akhir 1990 an dan awal-awal 2000 an, banyak sekali radio 'liar' yang dibuat berbagai komunitas anak-anak muda. Memanfaatkan frekuensi radio FM yang berjalur pendek membuat radio radio anak muda tumbuh subur dan punya penggemar masing-masing. Munculnya aturan baru Komisi Penyiaran soal frekuensi lah hingga radio itu akhirnya hilang. Yang menarik dari radio-radio 'liar' tersebut adalah keseringan penyiarnya untuk berbahasa prokem Jakarta, bahkan radio yang mainstream dengan segmen anak muda pun penyiarnya malah kadang kala saya pikir memang bukan anak Makassar yang nyebut kata-kata dalam bahasa Makassar seolah asing banget.
Radio komunitas itu wajar saja harus berbicara gaul. Demam catatan Si Boy dan Ali Topan masih terasa. Belum lagi ditambah dengan Si Lupus yang semuanya menjadi idola seantero anak muda makassar. Wajar saja prilaku dan bahasanya dijiplak seantero negeri ini. Walaupun yang maksa banget akan terdengar lucu apalagi kambuh penyakit okkots (kebiasan berbicara atau juga menulis yang melebihkan huruf atau menghilangkan huruf).
Nah, kembali ke soal pemidahan Ibukota. Mengapa setelah sekian lama diidam-idamkan, menjadi warga Ibukota sepertinya tidak lagi menjadi prestise bagi anak muda Makassar. Mungkin lebih baik tidak dianggap gaul daripada harus tua di jalan karena macet. (*)
Apakah begini caranya Jokowi 'membalas' kekalahan suaranya di luar pulau Jawa? Dengan memindahkan Ibukota? Tapi giliran yang di Makassar yang menganggapnya sebagai lelucon. Lihat saja meme seperti proses pemidahan monas dengan diangkut helikopter, ancaman kemacetan khas Jakarta yang akan pindah juga ke Makassar dan orang di Makassar yang tidak rela itu hingga dilema anak muda makassar kalau harus berlogat Jakarta dipadupadankan dengan dialek anak muda Makassar. Misalnya : "Gue sih santai ji", "Nakke (gue) Selow aja kaleus" atau "Eh tetta (bokap) loe kemane aje"
Karena memadupadankan dan melakukan asimiliasi bahasa prokem ini sungguh meribetkan anak muda Makassar. Maka diputuskan untuk menolak saja pindahnya ibukota tersebut. Belum lagi kalau pindah dengan macet-macetnya, pindah juga dengan gedung-gedung tingginya. Mau pake lahan mana coba? Perumahan saja harus ke pinggir kota atau ke Kabupaten tetangga untuk bikin rumah - rumah. Emang mau reklamasi lagi. Nambah masalah lagi dong.
Belum karena banyak pejabat lalu lalang, berati bakal sering kita terganggu dengan arus lalu lintas harus disterilkan karena 01 dan 02 RI mau lewat. Repot lagi kan.
Etapi sebenarnya aneh juga anak muda makassar malah menolak atau gak bisa adaptasi dengan bahasa prokem Jakarta loh. Soalnya, salah satu ambisi selain bisa lihat monas adalah bisa logat Jakarta loh. Itu bikin prestisenya naik menjadi anak gaul gitu.
Akhir 1990 an dan awal-awal 2000 an, banyak sekali radio 'liar' yang dibuat berbagai komunitas anak-anak muda. Memanfaatkan frekuensi radio FM yang berjalur pendek membuat radio radio anak muda tumbuh subur dan punya penggemar masing-masing. Munculnya aturan baru Komisi Penyiaran soal frekuensi lah hingga radio itu akhirnya hilang. Yang menarik dari radio-radio 'liar' tersebut adalah keseringan penyiarnya untuk berbahasa prokem Jakarta, bahkan radio yang mainstream dengan segmen anak muda pun penyiarnya malah kadang kala saya pikir memang bukan anak Makassar yang nyebut kata-kata dalam bahasa Makassar seolah asing banget.
Radio komunitas itu wajar saja harus berbicara gaul. Demam catatan Si Boy dan Ali Topan masih terasa. Belum lagi ditambah dengan Si Lupus yang semuanya menjadi idola seantero anak muda makassar. Wajar saja prilaku dan bahasanya dijiplak seantero negeri ini. Walaupun yang maksa banget akan terdengar lucu apalagi kambuh penyakit okkots (kebiasan berbicara atau juga menulis yang melebihkan huruf atau menghilangkan huruf).
Nah, kembali ke soal pemidahan Ibukota. Mengapa setelah sekian lama diidam-idamkan, menjadi warga Ibukota sepertinya tidak lagi menjadi prestise bagi anak muda Makassar. Mungkin lebih baik tidak dianggap gaul daripada harus tua di jalan karena macet. (*)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar