Senin, 15 April 2019

Ironi dalam Peradaban Bercahaya Listrik


(catatan usai menonton film dokumenter Sexy Killers)

Ada ketidakbahagian dibalik kebahagian kita menikmati listrik di rumah. Ketidakbahagian yang berakhir maut bagi Novi yang berbulan-bulan menderita kanker akibat terpapar polutan batubara dari PLTU Panau di Palu. Satu dari sekian potret rakyat yang terdampak atas pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang berbahan baku batubara

Ketidakbahagian yang sama dirasakan petani di sekitar pembangunan mega proyek PLTU Batang, Jawa Tengah. Begitupun para nelayan yang mencari ikan di sekitar perairan Karimun Jawa dan juga Bali.

Hal ini digambarkan dengan gambar dan plot yang menyentuh dari film dokumenter produksi Watchdoc Documentary karya Danny Laksono berjudul Sexy Killers.

Saya diundang menjadi pemantik untuk diskusi dan nonton bareng film ini oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Makassar di sekertariatnya, malam 10 April 2019 lalu.

Film ini hendak menginterupsi kebahagian kita dalam menikmati kehidupan nan fana ini dalam gemerlap cahaya dari tonggak penemuan masyarakat modern bernama listrik. Tingkat kebutuhan pada energi yang memberikan tenaga listrik ini semakin melonjak saja. Dari sekedar menjaga handphone kita tetap standby agar tak dituding sedang melakukan apa-apa oleh pasangan karena hp yang sedang off, hingga mengatasi kejengkelan kita menyaksikan klub kebanggan kita bermain di lapangan sepakbola yang memerlukan ratusan watt untuk menerangi pertandingan yang dilakukan di malam hari.

Walaupun fana, hidup yang menyenangkan dengan sungguh-sungguh kita nikmati, kita usahakan dengan sebaik-baiknya dengan setekun-tekunnya. Anehnya kita tak cukup puas. Kita meminta peradaban membangunkan segala macam produk kebudayaan untuk memberikan fasilitas pada kesenangan dan kebahagian. Tetapi peradaban tak menyenangkan bagi semua orang. Harus ada yang ditumbalkan untuk itu.

Demi menjaga listrik tetap menyala dan menghindari makian warga atas matinya sejam saja listrik, pemerintah mengupayakan listrik. Pembangunan pembangkit listrik itu pun tentu harus menguntungkan bagi investornya. Karena hukum bisnisnya begitu. Maka dicarilah yang paling murah dan ekonomis sebagai bahan bakunya. Barubara menjadi konsumsi terbanyak dari PLTU itu. Dan pulau Kalimantan yang terbesar menyumbang batubaranya untuk dipakai.

Karena menguntungkan, sekelompok orang ingin menguasai ini. Baik dari hulu hingga hilir. Kalau perlu terkoneksi dari tambang batubara hingga PLTU. Ditambah lagi yang menentukan kebijakannya baik legislatif, eksekutif hingga yudikatifnya dalam satu lingkaran. Jadilah oligarki politik. Yang dasyat bila semua yang berlaga yang tampil seolah-olah bersaing beradu dalam konstetasi politik rupanya adalah satu kelompok yang sama. Kita hanya melihat pelaksanaan demokrasi yang seolah-olah demokrasi. Kita hanya melihat sandiwara Pemilu, Pilpres ataupun Pilkada.

Suara-suara minor, yang berjarak selemparan batu anak kecil dari belakang rumahnya, bahkan hanya berjarak lima centimeter dari hidungnya itulah yang diredam dan tak terekspose dari keriuhan politik di media-media -oh iya media media besar ini pun dimiliki oleh para oligarki tersebut-  karena itupula publik mesti berterima kasih kepada orang-orang seperti mas Dandhy yang rela merogoh kocek tabungannya untuk dihabiskan berkeliling Indonesia. Bukan untuk merekam panorama keindahan negeri kaya hayati dan laut ini. Tetapi untuk merekam suara-suara minor. Dan juga ironi-ironi yang terus berulang dari pemilu ke pemilu. Dari rezim ke rezim lainnya. Dari Leisure dan traveling-traveling.

Peradaban yang menyerahkan sepenuhnya kepada nafsu manusia hanya akan melahirkan manusia-manusia serakah. Peradaban yang mendekatkan dan memasrahkan diri pada mekanisme alam akan mencoba untuk mengerti dan berjalan beriring-iringan. Kita tak bisa berdiam sembari mengutuki gelap karena pemadaman listrik. Kita masih berharap pada listrik yang dihasilkan dari tenaga angin atau matahari.

Kita tak harus berburu dengan waktu dan melahirkan teknologi yang instan tapi merusak ekosistem. Kita tak perlu berkecil hati untuk akhrinya pesimis bahwa kita hanya sendiri atau segelintir untuk bisa melawan raksasa bernama oligarki itu. Kita bisa bergerak bersama dalam barisan civil society yang beradab dan kuat.(*)

Jumat, 12 April 2019

Melawan Stigma Hoaks



Pada sebuah acara diskusi yang dibuat oleh HMI Komisariat Perguruan Tinggi Fajar dua pekan lalu. Salah satu kegelisahan yang saya bagi dan menjadi poin penting tanggapan saya soal pemilu adalah tentang kampanye melawan hoaks.

Hoaks yang menjadi term atau istilah yang menjadi familiar bagi rakyat Indonesia di tahun politik sekarang. Sebuah konsekuensi ketika teknologi internt dengan sosial media yang bebas saat ini membuka ruang besar bagi penggunanya - yang diistilahkan dengan warga net atau netizen- untuk menanggapi dan berbicara apa saja.

Menanggapi hal tersebut, negara sudah membuat UU ITE yang akan menjerat para pengguna yang tidak bertanggung jawab dengan menyebarkan fitnah dan kabar bohong. Seringkali UU ITE ini dipakai oleh pejabat publik atau publik figur untuk menjerat netizen-netizen nakal tersebut.

Menjelang beberapa bulan sebelum 17 April 2019, atau menjelang pelaksanaan Pemilu 2019. Term hoax semakin viral. Terutama sekaitan dengan dukung mendukung calon presiden dan wakil presiden.

Aparat Kepolisian dari pusat hingga Polsek mengampanyekan gerakan lawan hoak tersebut. Narasi ini semakin besar dan kuat didengungkan oleh pemerintah terutama pada sosok Presiden Jokowi yang kembali mencalonkan diri dalam Pilpres yang tinggal beberapa hari ini.

Bahkan berbagai instansi pemerintahan terutama pemerintah pusat merasa perlu mengampanyekan untuk Lawan Hoaks tersebut. Narasi yang terlalu besar (atau mungkin dibesar-besarkan) ini ditambah dengan instrumen menakut-nakuti seperti memperlihatkan contoh kasus dimana polisi dengan gerak cepat menangkapi dan memproses kasus tersebut. Yang terakhir untuk menakut-nakuti juga sempat Mekopolhukam Wiranto membuat wacana untuk memasukkan pelanggar hoaks ini dalam UU Anti Terorisme.

Berikutnya, wacana lawan hoaks ini menjadi term yang identik kepada kubu petahana Jokowi, karena memasuki masa kampanye resmi, Jokowi mengulang-ngulang narasi tentang dirinya yang sering difitnah dan menjadi korban hoaks tersebut.

Lawan hoaks juga tidak menjadi jelas lagi apakah isi kampanye politik dari Jokowi atau program pemerintah. Seperti kadang saya bingung apakah para menteri dan presiden sedang kunjungan kerja atau sedang melangsungkan kampanye. Karena doi tidak mau cuti.

Karena narasi ini diulang-ulang dan massif dikampanyekan, saya kok jadi curiga ini sebuah stigma yang ingin ditanam dibenak masyarakat. Bahwa semua yang negatif terkait pemerintah dan Jokowi adalah hoaks/bohong. Dan apapun yang disampaikan kubu rivalnya beserta pendukungnya atau yang disangkakan melakukan hoaks itu pasti penyebar hoaks.

Karena stigma, ini menjadi seperti stigma yang diberikan soal komunis atau PKI. Kita tidak lagi membedakan yang mana sebenarnya dan mana yang pura-pura. Kedua, kalau ini tertanam dibenak masyarakat, maka pihak yang menanamkan ini akan meraih keuntungan dengan bisa melakukan apa saja atau kecurangan saat pemilu tanpa perlu khawatir terbongkar. Paling mereka hanya akan bilang "ah itu hoaks doang".

Selanjutnya, saya membahas soal defenisi atas kebenaran. Sederahanya hoaks diartikan adalah kabar bohong yang tidak sesuai fakta, atau informasi yang tidak punya fakta.

Pertanyaan kritisnya, apakah informasi yang tak punya fakta maka serta merta bohong dan tidak benar? bisa jadi informasi itu hanyalah petunjuk pada sebuah kebenaran yang disembunyikan atau petunjuk pada sebuah kejahatan yang akan dilakukan.

Dalam filsafat barat, ada tiga teori kebenaran, yakni Kebenaran Pragmatis, digtumnya "Sesuatu itu benar kalau ada manfaatnya, kalau tidak ada itu tidak benar" contohnya, apakah memercayai Tuhan itu ada atau tidak menurut teori ini tergantung apakah ada manfaatnya. Kebenaran informasi yang dituding hoaks tergantung apa manfaatnya informasi tersebut bila benar atau pun tidak benar. Yang mendapat manfaatnya akan bilang itu benar dan percaya itu benar, sementara yang tidak mendapat manfaat dari itu dengan sendirinya akan bilang itu tidak benar.

Kedua, kebenaran Korespondensi; teori ini bilang, kebenaran hanya benar bila disampaikan oleh orang yang representatif serta kapabel menyampaikannya, contohnya diognasa seseorang mengidap kanker tentu harus disampaikan oleh dokter. Tetapi di abad kemajuan internet sekarang ini, kita melihat siapa saja bisa menjadi pakar, kata Eka Kurniawa di tulisannya di koran Jawa Pos hari minggu lalu "Pakar Publik" ini plus minusnya internet atau sosial media, orang bisa jadi pakar tanpa stempel kepakaran dari institusi pendidikan. Ketiga teori kebenaran kohesi, dimana teori ini bilang kebenarna harus berkesesuaian dengan fakta. Suara mobil dikejauhan kebenaranya kalau kita melihat sendiri ada mobil yang lewat, atau aroma busuk di tong sampah tidak bisa dibilang kebenaran kalau kita tidak melihat sendiri ada bangkai di dalam tong sampah.

Sebenarnya soal hoaks mestinya ditangani dengan penguatan literasi media masyarakat. Mengonfirmasi dan menalar informasi perlu dilakukan. Apalagi ditengah ketidakpercayaan publik atas politik dan penegak hukum. Juga ketidakpercayaan pada media mainstream.

Masyarakat memang perlu terus belajar mengasah akal sehat agar tidak selalu menjadi korban penipuan para elit. Tetapi sebelumnya kita lawan dulu stigma hoaks.(*)




Kamis, 01 November 2018

DI DALAM SEPI

diambil dari pinterest




Di dalam sepi yang paling bungkam
kita hanya bisa mengerjapkan rindu pada mata purba
Di dalam sepi yang paling muram
Abjad di setengah malam setengah sadar
Adalah siklus ilusi birahi yang terperangkap dalam puisi kian usang

                     Kata kata menjadi murah di lidah dusta
                     Harapan menjadi buih yang paling
                     Mudah meletup ditengah
                     orang-orang yang menjadi buas        
                     ketika lapar
                     Kata kata tak menunda apa apa
                     Tak ditunggu siapa siapa
                     Dan dirindu hanya sepi

Di dalam sepi tak bertepi
Hanyalah kelamin yang menunda pecah 

Rabu, 31 Oktober 2018

Cara Sendu Kehilangan Ketidakbahagian





(oleh : IRWAN.AR)
Pada pematang, kakiku berjalan di tanah yang lesap ke kulit dan basah. Pada pematang pagi belia, terlalu awal. Tetapi bagaimanapun dogmadogma selalu jadi ritus sarapan kita.

Diantara bulir padi ada kenangan masam hendak berlepasan dari senyum yang baru saja berpapasan ketika dengan binar engkau berkata: ini musim omong kosong, pembual bertebaran dari baliho dan papanpapan reklame. mememekak dari kotak tivi.

Pada pematang aku menyeret kaki melangkah jauh, bukan pergi atau pulang. Hanya sesat dalam sesak semak semak.

Lalu kita menghitung bulirbulir air mata dari mata air perasaan yang menganga. Tetapi betapa kufurnya kita yang menyembah perasaan dengan menghitung bilangan. Bukankah begitu cara kita kehilangan kebahagiaan?
Lalu aku menyudahi rasa sakit dan ketidakbahagian dengan terbang tak kembali pada pematang.
(2018)

nb: puisi ini telah diterbitkan dalam buku antologi puisi "Kuantar Kau Ke Makassar" untuk Fiction Writer F8 Makassar

Membaca Renungan Ramadan Ami Ibrahim





Saya berada di titik diri yang paling tergerus ketika terdampar di sudut dalam kafe kopisentris.

Lalu saya membaca sebuah novel karya Dag Solstad, novelis Norwegia yang banyak bercerita tentang keterasingan dalam masyarakat kontemporer.

Selang selingnya saya Membaca metamorfosa yang menjadi semacam petunjuk-tidak-teknis perihal merasakan rasa lapar dan atmosfir puasa itu sendiri.

Ulasan seorang penyair dan perenung hidup (dengan segenap hiruk pikuknya) diocehkanlah dengan liris lalu lintas perasaannya tentang makna ramadan bagi diri seorang kakak @ami_ibrahim iyya bukan penkhotbah resmi di bulan ramadan sebab ia bukan sarjana dakwah islam, apalagi juga bukan ahli tafsir lulusan al-azhar yang punya kewenangan otoritatif hal fiqiah perihal ibadah puasa.

Namun ia bisa saja mencuil selembar dua lembar perasaannya dan pikirannya tentang rasa lapar dan atomosfir ramadan itu sendiri. Maka dia mesti dibaca sebagai tafsir seorang penyair atas rasa lapar nya.

Walaupun tulisan di metamorfosis didaku ulasan ringan, namun malah seringkali memantik pikiran atau bahkan menjerumuskan kita kedalam permenungan yang menjadi semacam upaya sublimasi kehidupan.

Tak percaya? Bacalah metamorfosis karya Ami Ibrahim

cari

Memisahkan Pisang Ijo dari Sirup DHT, Itu Jahat!

Bulan ramadan yang akan membuat orang-orang Bugis Makassar di perantauan termehek-mehek pasti salah satunya adalah pisang ijo. Penganan t...

Jelajah Kopi

Jelajah Kopi
menjelajah kopi ke festival kopi